Minggu, 19 Januari 2014

Semangka milik Sang Kyai

kokokan ayam pagi ini membangunkanku dari tidur. kutengok jam weker yang ada di atas meja belajar, ternyata aku terlambat lagi ke mushollah. hmm ini gara-gara begadang semalam suntuk, meladeni ocehan kakak perempuanku. entah apa sebabnya dia memarahiku. katanya sih karena nilaiku yang makin menurun. aku juga bingung, padahal sudah ikut les sana-sini, ditambah lagi aku tak pernah alpa belajar di sekolah. mungkin karena guruku saja yang tak adil memberi nilai, ketusku dalam hati.

 "Rea,reaa...."kudengar suara dari balik pintu kamarku. "ayo bangun ini sudah jam berapa, pak Kyai sudah menunggumu. kamu telat lagi sepertinya "suara itu kembali berujar. " iya, ini juga sudah bangun kok " celetukku dari dalam kamar mandi. aku bergegas berpakaian rapi, gamis hijau favoritku, dan hijab putih yang menutup di kepalaku. sambil memakai jam tangan pink pemberian sahabat karibuk, aku beranjak menuju meja makan. "sudah berapa kali kubilang, jangan membuat pak Kyai menunggu", kata bundaku sambil menghampiri dan memberiku segelas susu coklat kesukaanku. "hmm, gimana lagi donk bunda, semalaman aku harus mendengar nyonya ratih mengomeliku" jawabku sambil melirik kakakku yang duduk di samping kananku. "salah sendiri, ini karena kamu terlalu banyak main. jadi nilai-nilaimu jadi bobrok" cetus ratih, kakak perempuanku. Ratih adalah anak pertama di keluarga kami, dia memang sosok kakak yang tegas. karena itu ayah dan bundaku pun segan padanya. "ya sudah, kamu berangkat gih sana. kasihan pak kyai kalau menunggumu terlalu lama".ucap bundaku. " oh iya, bunda. benih buah semangka yang aku bawa kemarin bunda simpan dimana? " tanyaku. " sudah bunda siapkan di meja depan" jawab bunda. "kalau begitu aku berangkat ayah, bunda" ucapku sambil menjabat tangan kedua orangtuaku.

          aku pun menuju mushollah dekat sekolahku. tak lupa kubawa kantong titipan pak Kyai. tiap hari minggu aku memang selalu ke mushollah. aku dan mae, sahabatku diminta pak Kyai untuk menemaninya berkebun. pak Kyai adalah imam di mushollah dekat sekolah. beliau sekaligus guru Agama yang mengabdi di sekolah tempatku menuntut ilmu. beliau orang yang sangat ramah. usianya sudah 65 tahun, tapi semangatnya masih seperti masih muda saja. karena itu aku dan teman-temanku senang diajar olehnya. beliau dan istrinya tinggal tak jauh dari sekolah. sayangnya, 10 tahun yang lalu anak satu-satunya meninggal dunia. makanya beliau begitu ramah pada kami semua. "assalamu'alaikum wr.wb pak Kyai" sapaku sambil menjabat tangannya."wa'alaikumsalam wr.wb" jawab pak Kyai dan Mae. " oh ternyata kamu sudah ada toh",tanyaku pada mae yang ternyata sudah datang. " iyalah, aku kan emang sering datang lebih awal dibanding nona hehehehehe" jawab Mae sambil menggodaku. " maaf maaf pak Kyai, aku ketiduran"kataku merasa bersalah. " hehehehe tidak apa-apa nak.yang penting kalian tidak bosan menemani bapak berkebun. oh iya, pesanan bapak sudak kamu bawa?" pak Kyai balik bertanya. " Alhamdulillah pak, kemarin paman memberiku banyak benih buah semangka" jawabku sambil menyerahkan kantong yang kubawa tadi. "syukur alhamdulillah, kalau begitu tunggu apalagi cepatlah kau ambil cangkul dan ember. sudah bapak siapkan di dekat sumur"kata pak Kyai. kami pun mulai berkebun.
         Di belakang Mushollah, pak Kyai membuat kebun kecil untuk menanam buah-buahan. warga sekitar pun sering mengunjungi kebun ini. maklum semangka hasil tanam pak Kyai terkenal rasanya manis dan jumlah bijinya yang sedikit. tak jarang, orang dari kampung seberang datang berkunjung, hanya untuk mencicipi kelezatan semangka milik pak Kyai. bukan hanya semangka saja, ada markisa, rambutan dan mangga yang kami tanam. rasanay sungguh nikmat bila dimakan saat dipetik. selain itu, pak Kyai terkenal dermawan, ada masa dimana beliau membagikan gratis bah semangkanya untuk warga di daerah kami. karena itu juga saat panen tiba, pak Kyai tak pernah lupa untuk selalu berderma. hidupnya yang sederhana menunjukkan betapa beliau penuh belas kasih. tak pernah pelit untuk berbagi, meskipun tak jarang orang memanfaatkan kebaikannya, tapi beliau tak pernah merasa sakit hati. semangka milik pak Kyai-lah yang memberiku banyak pelajaran. bagaimana susahnya berbaik hati pada orang lain. beliau jugalah yang selalu mengingatkanku untuk senantiasa bersyukur pada ALLAH SWT dengan cara berbagi dengan orang lain.

Tidak ada komentar: