seminggu lebih telah Ara mengunjungi pohon rindang yang tumbuh di tepi danau itu.
payung lusuh milik sang ayah selalu menemani. tak jarang ia merebahkan diri sambil sesekali bangkit dan menatap tajam pohon lain yang ada di seberang danau.
tepat hari ini kesedihannya berlangsung. seminggu lalu, kecelakaan maut menimpa keluarganya. tak ada yang tersisa. ayah, ibu dan kedua kakak perempuannya ikut tewas seketika. hanya dirinya yang saat itu sedang asyik bermain bersama temannya di danau ini.
tak pernah disangka olehnya, sapaan manis ayah dan ibunya adalah pertemuan terakhir yang memilukan.
tak ada firasat bahkan perasaan aneh yan menghampirinya. hanya saja saat pertemuan terakhir itu, wajah kedua orangtuanya tampak begitu berseri, masih dia ingat senyum manis nun sumringah menghias waja ayu kedua kakaknya. sayang, itulah pertemuan terakhir.
"kau sedang apa?", terdengar suara sendu dari balik pohon itu. Ara terkejut dan bangkit dari duduknya. "ternyata kamu, fa". jawab Ara sambil tertunduk. Syafa adalah sahabat kecil Ara.dialah yang memberi semangat pada Ara. sahabat yang tak pernah letih menghiburnya. sahabat yang dengan setia menemaninya melewati masa suram di usianya yang masih belia.
syafa kemudian mendekat, lalu ikut duduk di samping Ara. sambil sesekali melempar batu kecil ke danau. Ara yang terbaring, tiba-tiba berkata " kau masih ingat pohon cemara di seberang sana ? ".ucap Ara. sejena Syafa terdiam, ikut memandangi pohon yang ditunjuk Ara. sambil memegang bahu kanan sahabatnya, dia berujar " tentulah kawan, siapa yang tak ingat dengan pohon yang ditanam paman sebagai bentuk sayangnya padamu". tanpa sadar Ara menitikkan airmata, lama-kelamaan terdengar suara isak tangis yang semakin kencang. " aku rindu ayah, aku rindu ibu, aku rindu mereka ", kata Ara sambil tertunduk menutupi wajahnya.
"cemara itu tak lagi ada di istana, fa.dia pergi dan hanya meninggalkan daun kering untukku", lanjut Ara sambil terisak. "hmm...aku tau perasaanmu. tapi bukankah pohon cemara itu masih kokoh berdiri ? itu tanda kalau ayahmu masih menjagamu, bedanya dia tak bisa menyentuhmu. tapi yakinlah kawan, apa yang kau alami saat ini bukanlah akhir dari hidupmu. ada banyak mimpi yang paman titipkan untuk kau wujudkan. cemara itu tak pernah hilang, hanya berpindah istana. " ucap Syafa sambil merangkul sahabatnya.
lama mereka beradu dalam tangisan Ara. syafa seorang sahabat yang setia, tak pernah bosan mengingatkannya. tentang cemara di seberang danau, tentang cemara dalam istana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar